Senin , Juli 15 2019
Home / ARTICLE / Perhutanan Sosial, Sahabat atau Lawan Rakyat/Usaha Kecil?

Perhutanan Sosial, Sahabat atau Lawan Rakyat/Usaha Kecil?

Dulu, Ini Awal Kukenal Hutan

Pencerita Dunia (PD) – Jakarta.
Waktu menerima undangan acara peluncuran buku Dampak Perhutanan Sosial, seketika aku teringat sama sebuah puisi dari teman kecilku yang berhasil menjadi puisi anak-anak terbaik bertemakan “hutan” tingkat Asia, di zaman Menteri Kehutan dan Lingkungan Hidup, Bapak Prof. Dr. Emil Salim, yang kemudian dijadikan lagu dan dinyanyikan duet bersama penyanyi cilik zaman dulu Hana Pertiwi.

Tuhan mencipta hutan
Tuhan menciptakan hujan
Hari ini hutan lebat Tuhan memberi rahmat
Hutan adalah, kehidupan
Tuhan menyayangi hutan

Dikalau hari ini, hutan kan menjadi gundul
Janganlah engkau Tuhan, marah kepada hutan
Marahilah orang-orang yang telah tak menyayangi hutan
Hutan adalah kehidupan, Tuhan menyayangi hutan

Puisi ini dibuat oleh Evelyn Ridha Avenina Ratih, seorang anak kelas 3 SD teman satu sanggar, yang sampai saat ini masih kuingat karena dari puisi itulah aku tertantang untuk mulai menulis dan pada akhirnya lebih mengenal hutan.

Ya…. Mengenal hutan, dampak, dan manfaat hutan. Berawal dari puisilah itu lantas pada akhirnya aku punya kecintaan yang luar biasa pada hutan dan keindahan alam.

Hutan

Hutan dengan segala keberadaannya, dalam banyak cerita, telah menjadi anugerah sekaligus bencana. Apapun itu penyebabnya. Entah itu saat diklaim kepemilikannya sebagai kepemilikan individu, yang sah atau pun tidak, maupun setelah pada akhirnya dikuasasi dan dikelola oleh negara.

Saat ini, hutan untuk rakyat adalah paradigma baru dari Perhutanan Sosial. Intinya hutan bukan hanya untuk pengusaha atau usaha besar, tapi untuk rakyat kecil dan usaha kecil mikro (UKM) di seputar hutan, perlu mendapat jaminan ijin hak untuk bercocok tanam, mendapatkan air minum dan penghidupan yang layak.

Jika di masa lalu, masyarakat adat, rakyat dan perambah hutan sering di kejar-kejar polisi hutan karena mencuri kayu, merusak bahkan membakarnya. Kini mereka malah diberi ijin oleh pemerintah untuk mengelola hutan.

Nah dari sinilah kita pada akhirnya mesti pada tahu mengenai Perhutanan Sosial ini. Apa dampaknya? Berhasilkah programnya?

“Ngobrolin Hutan Sosial”

Pada acara inilah akhirnya semua pertanyaan tadi, setidaknya mulai bisa terjawab. Bersama dengan beberapa rekan media dan para praktisi lingkungan, aku hadir memenuhi undangan di gedung Manggala Wanabakti, Jakarta.

Acara yang berjudul “Ngobrolin Hutan Sosial” ini merupakan program yang diselenggarakan oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama Forest Digest untuk yang kedua kalinya.

perhutanan sosial
Ini undangan acara seru itu

Kalau pada acara pertama agenda utamanya adalah bedah buku “Lima Hutan, Satu Cerita” karya Tosca Santoso, maka agenda utama dari acara kedua kali ini adalah peluncuran dan diskusi buku “Dampak Perhutanan Sosial – Perspektik Ekonomi, Sosial dan Lingkungan”.

perhutanan sosial
M.R. Karliansyah, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan

Acara yang dibuka oleh M.R. Karliansyah, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, dihadir oleh Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Profesor Mudrajad Kuncoro selaku ketua tim penelitian sebagai pembicara utama, dan Wito Laros dari kemitraan, Nur Amalia dari Pokja Perhutanan Sosial, serta Hamzah yang mewakili Paguyuban Tani Sunda Hejo sebagai mitra diskusi bedah buku.

Buku Dampak Perhutanan Sosial – Perspektif Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan

Perhutanan Sosial
Buku yang dibahas pada pertemuan

Buku Dampak Perhutanan Sosial – Perspektif Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan ini, merupakan hasil penelitian yang dipimpin Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Profesor Mudrajad Kuncoro bersama empat universitas pada praktik perhutanan sosial di Lampung dan Yogyakarta.

Sebelum diluncurkan pada tangga 15 April 2019, telah mendapatkan beberapa penghargaan termasuk dari Universitas Oxford yang memberikan sebuah penghargaan sebagai Best Presenter Award dan dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sebagai Best Paper untuk hasil penelitian yang sangat penting dan bermanfaat bagi Perhutanan Sosial di Indonesia.

perhutanan sosial
Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Profesor Mudrajad Kuncoro, saat memaparkan isi buku

1. Apa Itu Perhutanan Sosial?

Perhutanan sosial adalah sistem pengelolaan hutan lestari yang dilaksanakan dalam kawasan hutan negara atau atau hutan hak/hutan adat yang dilaksanakan oleh masyarakat setempat atau masyarakat hukum adat sebagai pelaku utama untuk meningkatkan kesejahteraannya, keseimbangan lingkungan dan dinamika sosial budaya.

Bentuk dan ruang lingkup Perhutanan Sosial mencakup 5 jenis hutan, yaitu:
– Hutan Desa (HD)
– Hutan Kemasyarakatan (HKm)
– Hutan Tanaman Rakyat (HTR)
– Hutan Adat (HA), dan
– Kemitraan Kehutanan

2. Dampak Perhutanan Sosial

Perhutanan sosial berpengaruh secara langsung kepada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat di sekitar hutan.

a. Dampak Ekonomi

Dampak ekonomi perhutanan sosial terlihat dari meningkatnya pendapatan keluarga anggota paguyuban tani. Dengan diberikan hak mengelola hutan, anggota kelompok tani mempunyai kepastian pendapatan dari komoditas yang mereka tanam. Kehadiran pendamping yang mengajari pengelolaan komoditas dan menghubungkan dengan pembeli membuat hasil agroforestri memiliki kepastian pasar.

perhutanan sosial
Wito Laros dari kemitraan

Proses produksi, pendapatan dan penyerapan tenaga kerja semakin meningkat. Hal ini berkat kepastian akan hak pengelolaan yang secara ekonomi memberikan nilai tambah bagi asset tanah dan asset batang pohon perkebunan. Alhasil kalau dulunya kebun dan ladang merupakan sumber penghasilan sampingan, sekarang menjadi sumber penghasilan utama.

Selain itu HKm juga mampu mengurangi arus urbanisasi. Ini karenapenyerapan tenaga kerja semakin besar di wilayah tersebut, karena usaha tani juga memiliki tenaga kerja.

Perhutanan Sosial pada akhirnya membebaskan para petani dari kemiskinan. Kini mereka mulai mampu membangun rumah milik sendiri meski sebagian masih semi permanen. Bahkan, saat ini para petani banyak yang telah memiliki sepeda motor bahkan lebih dari satu unit.

Namun demikian masih ada juga kendala-kendala yang dirasakan saat mengelola lahan, seperti terbatasnya akses bahan baku, modal, akses pasar dan peralatan yang masih sederhana.

Contoh sukses dari Perhutanan Sosial adalah Paguyuban Tani Sunda Hejo yang membawa hasil kopinya dari Garut ke Jakarta, yang diwakili oleh Kang Ilham. Berkat kegigihan setiap anggota Paguyuban Tani Sunda Hejo, hasil tani mereka berhasil dipasarkan secara Internasional.

perhutanan sosial
Produk kopi dari Paguyuban Tani Sunda Hejo

b. Dampak Sosial

Dampak secara sosial terlihat, antara lain, dari berkurangnya konflik antara petani di sekitar hutan dengan jagawana. Sebelum masyarakat diberikan hak pengelolaan hutan, mereka dianggap pengganggu hutan sehingga acap berkonflik dengan polisi hutan yang berpatroli.

Program ini berhasil memunculkan rasa memiliki di masyarakat. Setelah diberi wewenang untuk mengelola, mereka akhirnya berpikir untuk melestarikannya secara berkelanjutan. Masyarakat juga jadi lebih bisa membedakan berbagai fungsi hutan.

Melalui sosialisasi yang disampaikan pemerintah, melalui media, universitas, LSM dan lembaga bimbingan lainnya, sudah sekitar 93% masyarakaat yang sudah tahu HKm pada Perhutanan Sosial.

Adapun kendala yang masih ditemui pada aspek sosial yaitu: kurangnya akuntabilitas, kurangnya komunikasi antara pengurus dan anggota kelompok tani akibat lemahnya kapasitas pengurus, faktor cuaca seperti angin kencang serta musim hujan dan kemarau yang tidak sesuai siklus.

c. Dampak Lingkungan

Harmonisnya hubungan petani dengan polisi hutan membuat hutan yang menaungi tanaman petani menjadi terjaga, dari perambahan maupun konflik dengan satwa. Masyarakat menjadi terlibat menjaga rimba sembari mengelola lahan hak mereka dan pada aspek lingkungan terjadi perubahan tutupan lahan.

Sementara ancaman dan hambatan pada aspek ini adalah masih adanya gangguan satwa, kebakaran, pencurian dan perburuan.

Perhutanan Sosial
Seluruh pembicara dan beberapa tamu yang hadir

Tiga aspek tersebut merupakan tujuan utama perhutanan sosial. Sebuah perhutanan sosial dianggap berhasil, selain prosesnya yang sesuai dengan tahap-tahap yang diatur dalam pelbagai beleid, jika tiga aspek sosial, ekonomi, dan ekologi tercapai.

Siapa pun bisa mendapatkan E-Book dari buku ini dengan mengunduh secara gratis di website forestdigest.com (Just Click)

Baca juga : Puri at Kemang

About Eka Siregar

Halo.. panggil Bang Eka aja ya.. pada dasarnya saya senang jalan-jalan, makan dan mengerjakan atau mencoba hal-hal baru. Nah, di sini saya coba bagi ke teman-teman apa-apa yang telah saya lihat, dengar, dan rasakan sendiri. Silahkan dibaca-baca ya..

Check Also

penceritadunia danau situ gunung2

Transportasi ke Situ Gunung, Gampang dan Murah

Pencerita Dunia (PD) – Jakarta. Kawasan wisata Situ Gunung Sukabumi beritanya mulai marak lagi sejak …

2 comments

  1. Sekarang makin banyak LSM mengenai hutan. Bulan lalu aku ikut dari Yayasan Dr. Sjahrir. Kurang lebih sama. Aku suka acara seperti ini karena bermanfaat banget, bang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.